Kelas ketiga yang akan saya bahas merupakan kelas satu-satunya yang saya ajar saat ini yang isinya semua adalah anak lelaki. Merasa jadi yang paling cantik? Jelas! Tapi justru yang di luar dugaan adalah, kelas ini jauh lebih aktif dan jauh lebih talkative dibanding kelas yang ada perempuannya. Dalam kata lain, kelas ini agak-agak cerewet. I know, mungkin karena mereka setipe jadi mereka lebih blak-blakan. Dari hari pertama masuk kelas ini, sudah terlihat jelas mereka punya rasa ingin tahu yang lebih tinggi dibanding yang lain. Misalnya saja, ketika perkenalan pertama kali di hari pertama masuk kelas ini, mereka banyak mengajukan pertanyaan yang mayoritas adalah pertanyaan bersifat pribadi. Memang hal itu wajar, namanya juga perkenalan. Karena di peribahasa saja "tak kenal maka tak sayang". Jadi, kita harus saling mengenal agar bisa saling menyayangi.
Menangani satu kelas yang isinya para anak lelaki bukanlah hal pertama bagi saya, jadi saya sudah punya pengalaman sebelumnya. Tapi tentu saja tetap ada bedanya, karena yang dulu saya ajar adalah para mahasiswa yang sudah melewati masa labil remaja dan menanjak ke masa dewasa. Tidak sulit untuk mengaturnya, cukup menempelkan label dewasa saja. Tapi lain cerita untuk anak-anak kelas X-TKJ ini. Mereka masih anak lelaki remaja berumur belasan yang mungkin masih lebih senang dengan sesuatu yang santai dan tidak terlalu berat. Inilah tantangannya.
Memang, saya bukanlah orang yang suka menciptakan suasana kelas "menyeramkan" dan sangat serius sehingga tidak boleh ada tawa sedikitpun. Saya lebih suka menciptakan suasana kelas yang cenderung sedikit santai, tapi anak-anak tetap bisa konsentrasi belajar. Bisa dibilang sampai saat ini saya cukup berhasil membuat situasi itu. Saya tahu itu kelas mereka, tapi ketika jam pelajaran saya, itu adalah kelas saya, aturan saya, dan semua harus patuh pada saya.
Kelas X-TKJ ini selalu saja memberikan satu experience kecil yang berbeda-beda di setiap pertemuannya. Membuat kelas ini tidak terasa bosan untuk dimasuki. Itulah yang membuat kelas ini berbeda dari kelas yang lain. Tapi sayang, masih ada kekurangan di kelas ini di mata saya. Anak-anak yang lebih senang memperhatikan notebook mereka dibanding memperhatikan gurunya, anak-anak yang malah tertidur dikelas ketika jam pelajaran saya, anak-anak yang malah asyik mengobrol dibanding memperhatikan pelajaran, dan anak-anak yang cenderung cuek dengan tugas yang diberikan. Rasa kesal? Pasti ada sedikit. Namun saya tahu, ini belum waktunya saya untuk mengeluarkan amarah saya. Tapi, di lain waktu jika memang perilaku itu masih tidak bisa dirubah, maka mau tidak mau saya akan mengeluarkan cara-cara andalan saya untuk mengatasi siswa-siswa yang masih ada kekurangan tersebut.
Kelas ini juga merupakan satu-satunya kelas yang saya tidak tahu bagaimana first impression mereka terhadap saya, jadi saya masih harus menerka-nerka guru seperti apa yang mereka inginkan. Dan justru di mata saya mereka tidak terlihat seperti anak berusia 15 atau 16 tahunan, mereka justru terlihat lebih dari itu. Bahkan sering saya menganggap mereka seperti mahasiswa saya, teman saya, yang tidak hanya berbagi soal pelajaran, namun segala hal dalam hidup.
Tapi, so far kelas ini masih menyenangkan untuk saya, dan tidak pernah membuat saya bosan untuk mengajar didalamnya. Semoga kedepannya apa yang menjadi kekurangan mereka dimata saya bisa segera berubah menjadi kelebihan yang bisa saya banggakan ke kelas lain, dan mungkin ke guru-guru lain.
My Experience, My Story
Kamis, 06 Maret 2014
Senin, 24 Februari 2014
DIFFERENT CLASS, DIFFERENT EXPERIENCES
So far, menjadi seorang guru SMK itu menyenangkan. Memang berbeda dengan mengajar mahasiswa-mahasiswa kuliahan, tapi tetap terasa menyenangkan dan selalu ada hal kecil yang berbeda di setiap pertemuannya. Dan yang pasti selalu ada tawa di setiap kelas yang dimasuki.
Kelas lain yang menjadi kelas yang saya ajar adalah kelas X RPL 1. Dan untuk di kelas ini, dari pertama masuk saya bisa bilang "I like this class and I like the student".
Kenapa saya bisa berkata seperti itu? Karena di kelas inilah saya menemukan siswi-siswi yang cukup aktif, vokal, dan semangat belajar yang merata antara siswa laki-laki dan siswi perempuan. This is what I want.
Tapi, hal yang sama antara kelas ini dengan yang lain adalah, tim "hore"(sebutan untuk siswa yang senang bercanda,lebih aktif dan talkative) selalu duduk di barisan sebelah kanan dari meja guru. Sedangkan untuk siswa yang cenderung pendiam, tidak banyak bicara/bertanya, dan cenderung terlihat acuh selalu duduk di barisan sebelah kiri dari meja guru, dekat pintu. Tapi saya yakin, kedekatan antara guru dengan siswa-siswi nya mampu membuat kemampuan mereka secara keseluruhan dikelas menjadi merata. And I hope we had that chemistry.
Pertama kali diberi kuis pun mereka cukup bagus dalam hal nilai, dan ada beberapa yang sangat bagus. Cukup untuk membuat saya bangga masuk kelas ini. Semoga kedepannya akan jauh lebih baik, semakin baik, dan selalu jadi yang terbaik.
----"I was your teacher, but I can be your friend too"----
Kelas lain yang menjadi kelas yang saya ajar adalah kelas X RPL 1. Dan untuk di kelas ini, dari pertama masuk saya bisa bilang "I like this class and I like the student".
Kenapa saya bisa berkata seperti itu? Karena di kelas inilah saya menemukan siswi-siswi yang cukup aktif, vokal, dan semangat belajar yang merata antara siswa laki-laki dan siswi perempuan. This is what I want.
Tapi, hal yang sama antara kelas ini dengan yang lain adalah, tim "hore"(sebutan untuk siswa yang senang bercanda,lebih aktif dan talkative) selalu duduk di barisan sebelah kanan dari meja guru. Sedangkan untuk siswa yang cenderung pendiam, tidak banyak bicara/bertanya, dan cenderung terlihat acuh selalu duduk di barisan sebelah kiri dari meja guru, dekat pintu. Tapi saya yakin, kedekatan antara guru dengan siswa-siswi nya mampu membuat kemampuan mereka secara keseluruhan dikelas menjadi merata. And I hope we had that chemistry.
Pertama kali diberi kuis pun mereka cukup bagus dalam hal nilai, dan ada beberapa yang sangat bagus. Cukup untuk membuat saya bangga masuk kelas ini. Semoga kedepannya akan jauh lebih baik, semakin baik, dan selalu jadi yang terbaik.
----"I was your teacher, but I can be your friend too"----
Jumat, 21 Februari 2014
My First Experience As A Teacher
Hari ini, 21 Febuari 2014 adalah hari pertama saya memulai suatu pekerjaan di tempat baru. Hari ini saya menjadi guru dan mengajar di SMK. Actually, ini bukan kali pertama saya mengajar. Sebelumnya saya sempat mengajar juga, tapi bukan sebagai guru, melainkan sebagai seorang asisten dosen. Tapi, untuk yang satu ini saya akan tetap menyebutnya sebagai pengalaman pertama menjadi seorang guru. Today is my first experience as a teacher.
Hal pertama yang saya rasakan sebelum masuk kelas adalah deg-degan dan sedikit canggung. Tapi bagaimana pun juga, sebagai guru haruslah percaya diri. Dan kelas pertama yang saya ajar hari ini adalah kelas X RPL 2.
First Impressions ketika masuk ke kelas dan bertemu murid-murid adalah hanya sebagian dari mereka yang memperhatikan. Some of them looks not pay attentions, looks don't care about their teacher and their lesson. Tapi itu semua tidak membuat saya blank atau kehilangan konsentrasi dan kepercayaan diri untuk mengajar. They are just student, sama seperti mahasiswa yang pernah saya ajar. Ini kelas saya, ini mata pelajaran saya, dan mereka harus ikut aturan saya dan memperhatikan saya jika mau menjadi siswa yang baik.
Untungnya "sedikit pikiran negatif" itu tidak berlangsung lama. Karena ada beberapa siswa yang membuat kelucuan dan membuat suasana lebih menyatu lagi. Ya, walaupun mungkin dari kelucuan yang ditimbulkan membuat gelak tawa cukup keras yang mungkin terdengar sampai ke kelas lain seperti keributan. But it's ok for me, jangan buat kelas menjadi boring, menjadi terlalu kaku dan mungkin seperti "neraka". Dan itulah yang saya mau.
So far, siswa-siswi di kelas X RPL 2 menyenangkan, aktif, penurut, walaupun masih ada beberapa yang cenderung pendiam dan belum berani mengutarakan pendapat secara langsung dikelas. Tapi yang paling membuat gemas adalah, siswi perempuan yang masih terkesan malu-malu, kurang aktif dan kurang vokal di kelas. Saya, sebagai orang yang dulunya menjadi bagian minoritas dari mahasiswa jurusan teknik informatika merasa bahwa alangkah lebih baiknya jika para perempuan yang notabene adalah kaum minoritas dikelas, menjadi lebih vokal, lebih berani berbicara dikelas, agar tidak kalah dengan siswa laki-laki. Maybe not now, but next time it's a must.
Kedepannya, semoga siswa-siswi X RPL 2 tetap menjadi siswa-siswi yang aktif, pintar, penurut, dan mungkin menjadi kelas yang terbaik diantara yang lain. Amin.
Sebuah pengalaman menyenangkan dan menjadi kebanggaan bisa mengajar di kelas mereka.
Hal pertama yang saya rasakan sebelum masuk kelas adalah deg-degan dan sedikit canggung. Tapi bagaimana pun juga, sebagai guru haruslah percaya diri. Dan kelas pertama yang saya ajar hari ini adalah kelas X RPL 2.
First Impressions ketika masuk ke kelas dan bertemu murid-murid adalah hanya sebagian dari mereka yang memperhatikan. Some of them looks not pay attentions, looks don't care about their teacher and their lesson. Tapi itu semua tidak membuat saya blank atau kehilangan konsentrasi dan kepercayaan diri untuk mengajar. They are just student, sama seperti mahasiswa yang pernah saya ajar. Ini kelas saya, ini mata pelajaran saya, dan mereka harus ikut aturan saya dan memperhatikan saya jika mau menjadi siswa yang baik.
Untungnya "sedikit pikiran negatif" itu tidak berlangsung lama. Karena ada beberapa siswa yang membuat kelucuan dan membuat suasana lebih menyatu lagi. Ya, walaupun mungkin dari kelucuan yang ditimbulkan membuat gelak tawa cukup keras yang mungkin terdengar sampai ke kelas lain seperti keributan. But it's ok for me, jangan buat kelas menjadi boring, menjadi terlalu kaku dan mungkin seperti "neraka". Dan itulah yang saya mau.
So far, siswa-siswi di kelas X RPL 2 menyenangkan, aktif, penurut, walaupun masih ada beberapa yang cenderung pendiam dan belum berani mengutarakan pendapat secara langsung dikelas. Tapi yang paling membuat gemas adalah, siswi perempuan yang masih terkesan malu-malu, kurang aktif dan kurang vokal di kelas. Saya, sebagai orang yang dulunya menjadi bagian minoritas dari mahasiswa jurusan teknik informatika merasa bahwa alangkah lebih baiknya jika para perempuan yang notabene adalah kaum minoritas dikelas, menjadi lebih vokal, lebih berani berbicara dikelas, agar tidak kalah dengan siswa laki-laki. Maybe not now, but next time it's a must.
Kedepannya, semoga siswa-siswi X RPL 2 tetap menjadi siswa-siswi yang aktif, pintar, penurut, dan mungkin menjadi kelas yang terbaik diantara yang lain. Amin.
Sebuah pengalaman menyenangkan dan menjadi kebanggaan bisa mengajar di kelas mereka.
Langganan:
Komentar (Atom)