Kamis, 06 Maret 2014

CLASS OF THE BOYS

Kelas ketiga yang akan saya bahas merupakan kelas satu-satunya yang saya ajar saat ini yang isinya semua adalah anak lelaki. Merasa jadi yang paling cantik? Jelas! Tapi justru yang di luar dugaan adalah, kelas ini jauh lebih aktif dan jauh lebih talkative dibanding kelas yang ada perempuannya. Dalam kata lain, kelas ini agak-agak cerewet. I know, mungkin karena mereka setipe jadi mereka lebih blak-blakan. Dari hari pertama masuk kelas ini, sudah terlihat jelas mereka punya rasa ingin tahu yang lebih tinggi dibanding yang lain. Misalnya saja, ketika perkenalan pertama kali di hari pertama masuk kelas ini, mereka banyak mengajukan pertanyaan yang mayoritas adalah pertanyaan bersifat pribadi. Memang hal itu wajar, namanya juga perkenalan. Karena di peribahasa saja "tak kenal maka tak sayang". Jadi, kita harus saling mengenal agar bisa saling menyayangi.
Menangani satu kelas yang isinya para anak lelaki bukanlah hal pertama bagi saya, jadi saya sudah punya pengalaman sebelumnya. Tapi tentu saja tetap ada bedanya, karena yang dulu saya ajar adalah para mahasiswa yang sudah melewati masa labil remaja dan menanjak ke masa dewasa. Tidak sulit untuk mengaturnya, cukup menempelkan label dewasa saja. Tapi lain cerita untuk anak-anak kelas X-TKJ ini. Mereka masih anak lelaki remaja berumur belasan yang mungkin masih lebih senang dengan sesuatu yang santai dan tidak terlalu berat. Inilah tantangannya.
Memang, saya bukanlah orang yang suka menciptakan suasana kelas "menyeramkan" dan sangat serius sehingga tidak boleh ada tawa sedikitpun. Saya lebih suka menciptakan suasana kelas yang cenderung sedikit santai, tapi anak-anak tetap bisa konsentrasi belajar. Bisa dibilang sampai saat ini saya cukup berhasil membuat situasi itu. Saya tahu itu kelas mereka, tapi ketika jam pelajaran saya, itu adalah kelas saya, aturan saya, dan semua harus patuh pada saya.
Kelas X-TKJ ini selalu saja memberikan satu experience kecil yang berbeda-beda di setiap pertemuannya. Membuat kelas ini tidak terasa bosan untuk dimasuki. Itulah yang membuat kelas ini berbeda dari kelas yang lain. Tapi sayang, masih ada kekurangan di kelas ini di mata saya. Anak-anak yang lebih senang memperhatikan notebook mereka dibanding memperhatikan gurunya, anak-anak yang malah tertidur dikelas ketika jam pelajaran saya, anak-anak yang malah asyik mengobrol dibanding memperhatikan pelajaran, dan anak-anak yang cenderung cuek dengan tugas yang diberikan. Rasa kesal? Pasti ada sedikit. Namun saya tahu, ini belum waktunya saya untuk mengeluarkan amarah saya. Tapi, di lain waktu jika memang perilaku itu masih tidak bisa dirubah, maka mau tidak mau saya akan mengeluarkan cara-cara andalan saya untuk mengatasi siswa-siswa yang masih ada kekurangan tersebut.
Kelas ini juga merupakan satu-satunya kelas yang saya tidak tahu bagaimana first impression mereka terhadap saya, jadi saya masih harus menerka-nerka guru seperti apa yang mereka inginkan. Dan justru di mata saya mereka tidak terlihat seperti anak berusia 15 atau 16 tahunan, mereka justru terlihat lebih dari itu. Bahkan sering saya menganggap mereka seperti mahasiswa saya, teman saya, yang tidak hanya berbagi soal pelajaran, namun segala hal dalam hidup.
Tapi, so far kelas ini masih menyenangkan untuk saya, dan tidak pernah membuat saya bosan untuk mengajar didalamnya. Semoga kedepannya apa yang menjadi kekurangan mereka dimata saya bisa segera berubah menjadi kelebihan yang bisa saya banggakan ke kelas lain, dan mungkin ke guru-guru lain.